BREAKING NEWS
Search

Tak Layak Huni, Rumah Icih Dibongkar Warga

CIAMIS www.fokusberitaindonesia.com (09/05/2021) – Icih sudah bertahun-tahun hidup sebatang kara di rumahnya yang sederhana. Dalam kondisi yang serba terbatas, nenek 70 tahunan itu kerap dibantu tetangga untuk menyambung hidupnya.

Jarum jam menunjukan pukul 14.00. Suasana begitu tenang di perkampungan Dusun Sindang Girang, RT/RW 39/11 Desa Citeureup, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar), berdiri sebuah rumah kecil yang bangunannya berbeda dengan milik tetangganya.

Ya, rumah milik Icih itu dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk dimakan usia. Ukurannya pun hanya 2×3 meter. Tidak ada penerangan. Apalagi tempat memasak. Selain kasur tempat tidur yang nyaris amburadul, perabotan yang ada hanya ember dan piring kotor.

Bila dilihat dari kondisi rumahnya yang kecil itu, atapnya sudah rapuh dan nyaris ambruk, lantainya kotor dan dindingnya sudah pada keropos. Selain itu, bagian depan rumahnya pun sudah tak ada kaca.

Saat reporter sambangi rumahnya, nenek 70 tahun yang kini tinggal sebatang kara itu terlihat bingung. “Sareng saha?,” tanyanya ketika melihat ada tamu yang masuk ke rumahnya.

Menggunakan bahasa sunda, dia lalu menjelaskan sudah puluhan tahun hidup sendiri. Suaminya sudah meninggal 40 tahun yang lalu, dan dikaruniai 1 orang anak, kemudian anaknya pun meninggal dunia.

Tubuh yang sedikit gemuk dengan balutan kulit yang sudah berkeriput, tak membuat Icih gentar untuk bertahan hidup dengan penuh syukur. Kendati di usia sepuh, dalam bulan suci ramadhan ini ia tetap kuat menjalankan puasa meskipun sahur dan berbuka dengan seadanya.

Icih terduduk dilantai sembari memandang dangan mata yang berbinar-binar, sesekali dia mengusapkan telapak tangannya ke bagian pipi.

Sambil tersenyum ia mengatakan betapa bersyukur dan terharunya, bahwa masih banyak sekali orang yang memperdulikan dirinya meskipun yang datang seperti saat ini bukan kerabat atau keluarga.

Dia mengungkapkan, setelah suami dan anaknya meninggal, kemudian ia mengadu nasib ke Kabupaten Kuningan untuk berdagang seorang diri. Namun takdir berkata lain, karena Icih harus berhenti berdagang dan kembali ke kampung asalnya di Ciamis, karena nyaris tidak bisa berjalan lagi.

“Sekarang saya berjalan menggunakan tongkat, karena kaki terasa sakit mungkin ini penyakit rematik,” ujarnya kepada Reporter Sabtu, (8/5/2021).

Untuk bertahan hidup di rumah tidak layak huni, makan sehari-harinya Icih diberi sama tetangga dan saudaranya, sebab dia sudah tidak bisa berjalan normal untuk mencari nafkah sendiri.

“Saya sangat bersyukur masih diberikan umur panjang sampai bulan ramadhan tahun ini, semoga diberikan kekuatan dan kesabaran serta menjalankan kewajiban yang sudah alloh tetapkan kepada para hambanya,” ungkapnya

Yayat selaku kepala Dusun mengatakan pihaknya sudah melakukan permohonan bantuan kepada pemerintah, tetapi untuk program rutilahu dan bantuan dari provinsi masuk di tahun 2022, sehingga kita lakukan pembenahan seadanya atau sekedar dibongkar saja rumahnya untuk menghindari ambruk supaya tidak menimpa penghuni dan rumah tetangga.

(Taofik Ciamis)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *