BREAKING NEWS
Search

PK PMII Galuh menggelar audiensi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis

CIAMIS www.fokusberitaindonesia.com (05/05/2021) – Audiensi ini dilaksanakan oleh Biro Advokasi PMII Galuh bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis untuk membahas mengenai beberapa hal sektor pendidikan di Kabupaten Ciamis, Rabu 05/05/2021.

Alan Fauzi, selaku Ketua Biro Advokasi PK PMII Galuh mengatakan pentingnya internalisasi nilai-nilai etis dan budaya lokal dalam tubuh pendidikan di Kabupaten Ciamis.

“Di era disrupsi saat ini, sangatlah penting untuk melakukan internalisasi nilai-nilai etis dan budaya lokal sektor pendidikan di Kabupaten Ciamis. Hal itu sangatlah menjadi urgent karena di era disrupsi kini pelajar sedikit demi sedikit melupakan budaya lokal dan bahkan kurang memperhatikan nilai-nilai etika yang menjadi sebuah karakter bangsa, terkhusus di Ciamis,” ungkapnya.

Abdul Kharis, selaku ketua PK PMII Galuh juga mengatakan sangat pentingnya para pelajar melakukan studi lapangan ke sektor kebudayaan yang ada di Kabupaten Ciamis.

“Sebagai bentuk konkret dari internalisasi nili-nilai etis dan budaya lokal, perlu adanya sebuah gagasan mengenai pemantapan muatan lokal dalam kurikulum setiap sekolah, seperti halnya Kegaluhan yang sudah disusun oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga serta budayawan-budayawan Galuh yang mengintegrasikan nilai-nilai kegaluhan dalam setiap mata pelajaran. Nanti, di akhir semester pelajar diberikan kesempatan untuk melakukan kunjungan atau observasi ke beberapa kawasan budaya di Kabupaten Ciamis. Selain meningkatkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya lokal, hal itu juga berdampak baik bagi masyarakat pedagang sekitar yang akan terbantu di sektor ekonomi karena selalu ramai pengunjung,” jelasnya.

Sementara itu, Leza Lijayanto selaku Wakil Ketua II PMII Galuh juga menambahkan mengenai pentingnya internalisasi nilai-nilai etika dalam menangkal dan mencegah terjadinya kasus bulliying, kekerasan dan kejahatan seksual yang kerap terjadi.

“Kita juga berharap dengan internalisasi nilai-nilai etis ini mampu mencegah terjadinya buliying, kekerasan dan kejahatan seksual di ranah pendidikan. Dalam hal ini, kami juga berharap pemerintah tidak hanya menyoroti pelaku jika terjadi hal demikian, tapi juga mampu merangkul dan menyembuhkan pelajar yang menjadi korban. Biasanya korban mengalami ganguan psikologis dan juga mental yang cenderung menurun”, pungkasnya.

(Taofik Ciamis)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *